Saya berjalan mendekati pukul 20.00 malam, bukan karena sedang gundah gulana atau sedang resah dan gelisah, haduh gdubbbrakkk, bahasanya seperti bahasa para pujangga, padahal saya bukan seorang pujangga, lebih tepatnya seorang pengacau bagi dunia sastra.
Mari kembali ke cerita semula, saya ingin membawa kalian yang membaca, masuk ke dalam dunia saya, ke alam pikiran saya yang terkadang memiliki rasa bahagia yang subhanallah berlimpah ruah, dan terkadang rasa gembira itu bercampur dengan air mata, air mata bahagia.
Melangkah pergi, saya lapar, beberapa potong martabak telur belum bisa menendang rasa lapar hingga keluar dari system pencernaan yang saya punya. Martabak itu bukan kepunyaan saya, tapi milik tetangga sebelah, yah karena lapar sudah mendera mau tidak mau beberapa potong itu saya embat juga. Sekali dua kali mengunyah, tidak terasa, martabak itu habis juga, rasa lapar itu belum juga sirna, maka jadilah saya melanglang buana, keluar dari asrama mencoba memenuhi hasrat yang sudah tersendat-sendat (halah apa pula ini bahasa).
Anak-anak kecil itu berlari-lari, mereka yang dulunya masih terbata-bata dalam berbicara kini sudah semakin besar saja. Kadang saya berpikir, sebenarnya mereka yang terlalu cepat masa pertumbuhannya atau saya yang sebenarnya sudah semakin kadaluarsa, karena tidak pergi-pergi juga dari lingkungan asrama annisa. Sampai seorang bapak ojek bertanya ‘belum lulus juga?’, ‘iya pak, insya Allah bulan agustus’ begitu saya jawab, terus si bapak kasih komentar lagi, agak menohok sih ‘yang lain sudah pada lulus, sudah pada kerja, kamu belum lulus juga’ ya intinya seperti itu si bapak berkata.
Mari tinggalkan si bapak, kembali kepada anak-anak kecil itu yang semakin lama semakin beranjak dewasa. Mereka berlari, bermain kejar-kejaran, diiringi gelak tawa, senang melihatnya, saya bahagia melihat mereka tertawa. Ini malam minggu, kalau orang dewasa menghabiskan malam mereka dengan kekasihnya yang sama manusianya dengan dia, maka anak-anak kecil itu menghabiskan malam mereka dengan teman-temannya, berlari-lari di bawah bintang-bintang yang bertaburan.
Teruskan langkah, mendekati pondok pesantren tetangga sebelah yang bernama d**** f***h. Suddenly, mbak tarti memanggil, menghampiri warung ketopraknya, mendengarkan ia bercerita tentang binatang bernama luing yang menjelajahi wajahnya hingga membuat ia terjaga sampai pagi tiba, ha…3x saya hanya bisa tertawa.
Hahh, saya sedang mencoba mencari korelasi antara cerita yang satu dengan cerita yang lainnya, tapi ujung-ujungnya mentok.
Terus berjalan, melewati ponpes dengan ikhwan-ikhwan yang berseliweran. Dari dulu, paling malas rasanya kalau harus berpapasan dengan mereka, karena pasti bakal ada buntutnya, lihat saja sampai akhir cerita.
Jalan kopi ini semakin sepi, mana ada manusia yang berseliweran sesuka hati, yah terkecuali saya yang suka anomaly. Lapar, saya lapar, maka anomaly itu saya anggap menjadi suatu hal yang biasa, yang penting perut ini bisa segera terpenuhi hasratnya.
Sate satu porsi bu, begitu saya pesan pada si ibu penjual sate yang tidak mau sebutkan namanya, ‘gak keren, gengsi dong’ begitu katanya pada saya, saya hanya bisa tertawa. Jalan raya semakin ramai saja, di kiri-kanan jalan banyak tikar-tikar yang dibentangkan, ada yang duduk-duduk sembari berbincang-bincang ditemani segelas kopi dan karena yang berbincang-bincang itu banyak orang, maka bukan segelas kopi tentunya, tetapi bergelas-gelas kopi.
Sepanjang jalan ini kini menjadi ramai, mahasiswa/I seakan tumpah ruah bila malam sudah menjelang. Saya hanya sekedar mengamati dari kejauhan, dari balik asap yang mengepul dari hasil pembakaran arang batok kelapa, yang dijual murah di Indonesia tetapi menjadi mahal manakala itu batok kelapa kembali ke negerinya dalam rupa yang berbeda. Arang-arang batok itu berubah menjadi resistor, berubah menjadi tinta-tinta, dan orang-orang luar itu menjadi kaya raya karena komoditi yang kita punya. Mari kita lupakan betapa hebatnya itu arang batok kelapa, yang jelas, karena itu arang saya jadi bisa menelan sate ayam dalam keadaan matang, bravo untuk si arang.
Tak lama, sebuah pesan singkat sampai di telepon genggam butut yang saya cinta, isinya ‘kemana cep?’. Nah ini dia buntut dari apa yang saya ceritakan, manakala saya melewati ponpes tetangga sebelah d**** F***h. Pesan-pesan tidak penting itu saya terima, bahkan hingga mendekati pkl 23.00 malam menjelang, dari orang yang berbeda. Hah rasanya begitu lega manakala menghela nafas panjang, lalu ‘berikan saya kesabaran ya Rabb’.
Saya hanya ingin mencari angin, mencari makan sembari berkumpul dengan ibu pedagang sate, mendengarkan ia bercerita tentang putrinya yang luar biasa aktifnya, dan ia bangga pada putri bungsunya. Berkumpul dengan ibu penjual roti bakar, mendengarkan ia bercerita tentang putra sulungnya ‘anak saya itu gak suka ikan mbak’. Mulai dari pola makannya, sampai ke bagian dimana pendidikan begitu mahalnya. Ia berkeluh kesah tentang harga buku yang begitu mahal untuk ukuran kantongnya, ditambah lagi kurikulum yang selalu berubah. Ibu itu menjadi salah satu korban dari system pendidikan yang tidak jelas juntrungannya yang diterapkan di negeri ini, Indonesia raya.
Lebih menyenangkan mendengarkan, ketimbang berbicara, hanya lelah yang akan dirasa, dan kalori yang baru saya dapat dari satu porsi sate ayam tadi, bisa jadi dengan serta merta terbuang dengan cepat, begitu saja.
Saya pulang, pamit, ‘sering-sering mampir’, begitu pesan kedua wanita bersahaja itu.
Jalan lagi, jalan lagi, ya lagi-lagi berjalan, berjalan lagi-lagi,meninggalkan hiruk pikuk keramaian jalan raya. Jalan kopi semakin sepi, ada yang sudah tertidur pulas, terbawa, terlelap di dalam alam mimpinya. Ada yang masih terjaga, berkeliaran di luar sana, ada yang berkutat dengan dunia maya. Sah-sah saja, ini malam minggu, malamnya anak muda, begitu kata beberapa orang di luar sana (mungkin), saya hanya menerka.
Sepi, saya suka sepi, saya menyukai ketenangan. Jalanan ini sudah begitu lengang, tidak ada itu manusia yang lalu lalang, semua toko-toko kecil sudah menutup, mengunci pintu rapat-rapat. Pelanggan dengan uang berapa pun itu tidak akan mereka terima, karena yang mereka inginkan saat ini, malam ini hanya istirahat.
Saya senang, karena sepi membuat saya dapat berjalan bebas, lepas, berbicara, bermonolog sesuka hati sembari memandang ke atas, menatap ke langit yang luas. Bersama binatang-binatang malam yang menemani saya dalam diam, sedang mereka bersenandung senang.
Rasi bintang layang-layang, bertebaran, bintang-bintang berada pada gugusannya masing-masing. Saya senang, mendongakkan kepala menatap ke angkasa, bintang-bintang itu seperti membentuk aliran sungai, sungai bintang. Kadang, mereka tidak dapat terlihat manakala dunia begitu dipenuhi oleh terang benderang cahaya lampu yang menyilaukan, inilah salah satu dampak negative yang ditimbulkan oleh Thomas alfa edisson, lampu membuat bintang-bintang itu kehilangan cahayanya yang kadang mempesonakan mata.
Manusia sudah lupa bahwa keindahan itu ada di atas sana, ada di jutaan bintang-bintang yang bertaburan, dan sesungguhnya di dalam pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran Nya. Begitulah kira-kira apa yang tertera di dalam buku kehidupan yang saya punya, yang saya baca.
Malam ini indah, seperti malam-malam sebelumnya.
Semakin larut, hampir semua penghuni asrama sudah terlelap di dalam tidurnya. Saya? Yah saya masih di sini, mengamati bintang-bintang, memperhatikan katak yang sedang sendirian, apa mungkin ia sedang mencoba memanggil sang hujan? Apa memang katak bisa memanggil sang hujan? Atau cerita itu hanya sekedar dongeng belaka, dongeng para orang tua yang mereka perdengarkan kepada putra-putri kecil agar bisa dengan mudah mereka terlelap di pangkuan kedua orang tuanya? Entah lah, semuanya hanya bisa saya jawab dengan entahlah, saya tidak dapat berkata-kata.
Mari menutup hari dengan mengucap lafadz ‘hamdalah’ mari menjemput lelap, beristirahat sejenak.
Filed under: agama, cerita, hati | Tagged: bercerita, curhat, manusia, memori, syukur | Leave a Comment »