bertanya

kalau belum lulus, ditanya “kapan lulusnya?”

kalau sudah lulus ditanya “sudah kerja dimana?”

kalau sudah kerja, kembali ditanya “kapan nikahnya?”

kalau sudah menikah, masih juga ditanya “sudah punya anak?”

Kalau sudah punya anak, ditanya “berapa anaknya?”

kalau sudah banyak anak ditanya “sudah bisa apa anaknya?”

kalau anak sudah masuk usia sekolah, ditanya “sekolah dimana?”

kalau anak sudah masuk sekolah, ditanya “mau lanjut kemana?”

kalau anak sudah kuliah, ditanya “kapan si anak lulusnya?”

kalau sudah lulus, ditanya “kapan si anak menikahnya?”

kalau sudah menikah kembali ditanya “kapan punya cucunya?”

Terus begitu dan saya pikir pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya akan berhenti sampai di situ, kecuali ketika kamu sudah memasuki kaplingan 2 x 1 meter mu.

Dunia VS Akhirat, 1 – 0

Corel 12 mentok, kreativitas terjebak dalam kotak, sial kotak itu lama tidak terbuka, saat ini sepertinya kuncinya sudah lapuk dan berkarat.

Macromedia Flash 8, terbengkalai dengan alasan, program hilang karena terformat ulang bersama laptop yang mogok akibat kurang kerjaan, alih-alih menyelamatkan battery, hardisk laptop hampir jadi korban bunuh diri.

Corel photo paint, fitur banyak, sampai ‘melongo’, otak-atik sana sini, dasar otak lagi butek akibat missorientasi, ujung-ujungnya, garuk-garuk kepala yang tidak gatal, mengusap-usap wajah yang kebingungan, karena kekalahan telak antara dunia VS akhirat, yang dimenangkan dengan dunia 1-0

‘Arrrgghhhhhhhhhh’, ini benar-benar berteriak, di dalam hati.

Masya Allah

gdubbbrakkk, lari sana-lari sini, ini hanya di dalam imajinasi

tabrak sana-tabrak sini, elektron-elektron berloncatan, saling bertabrakan, ada yang hancur, ada yang melebur, ada yang mengeluarkan percikan-percikan api.

Dunia VS Akhirat, dengan kemenangan 1 – 0, dunia sedang memimpin saat ini, akibatnya missorientasi harus dihadapi, lagi-lagi missorientasi seperti beberapa tahun yang lalu.

Arrrggggggggggggh, sialll
menendang apa yang ada, menabrak setiap yang ada di depan mata, ini hanya ada di dalam alam imajinasi

Gdebukkkk, wadau, nafas memburu, hah ini gila, rasanya benar-benar gilaa. Kenapa jadi begini, setan-setan bersorak, tertawa senang sembari menabuh genderang, dunia 1 -0, hampir menduduki puncak klasemen sementara. Sementara itu, saya sedang terduduk lesu, terdiam, dengan tamborin di tangan. Akhirat menelan kekalahan seperti beberapa tahun silam 0, skor sementara 0.

Rasa khawatir mulai merayap, khawatir akhirat berada pada posisi degradasi ke seri berikutnya. Ini tidak diharapkan, berusaha kembali dengan cara yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, seperti saat ketika akhirat mampu bangkit hingga memegang puncak kekuasaan klasemen sementara dan mengirimkan dunia ke posisi nomor dua, bukan pada posisi rawan terdegradasi.

Dan kini, saya benar-benar terdiam, melongo tak tahu arah dan tujuan. Missorientasi, hingga kini belum juga menemukan cara untuk kembali. Dunia itu mempengaruhi, menggoda, itulah kenapa saya tidak suka terlampau kenyang, tidak suka dengan apa yang namanya terlalu banyak tertawa, tidak begitu suka dengan segala sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas kewajaran.

“ArrrGgghhh, ya Allah, saya hampir gila, hampir gila”

Dalam nafas memburu, berkejar-kejaran antara pikiran dan kecepatan tangan dalam menghasilkan dan menuangkan kata-kata. Peluh keringat keluar sudah, kemudian hilang begitu saja, bersama angin malam, mereka menguap sepertinya.

Hanya “tolong saya ya Rabb, tolong saya”

Helaan nafas panjang itu saya hembuskan, alunan nasyid itu terus menemani agar hati tetap terjaga, tidak terkontaminasi lebih jauh lagi. Saya harus bagaimana ya Rabb, dunia membuat hati tidak tentram, tidak nyaman, tidak tenang. Jiwa yang tidak kasat mata ini serasa ingin lepas dari raga, berontak, ingin segera pergi ‘hhhh’, saya hanya bisa menghela nafas, panjang, berat, berat, berat.

dia muncul lagi

Berusaha bersembunyi, mengendap-endap, kemudian lari, menghilang dikegelapan.

Harusnya menyamarkan diri seperti belalang daun ketika menempel di daun, seperti bunglon ketika menempel di dahan.

Mau bagaimana lagi, sudah ketahuan

Ditolak, bisa praduga dan syak wasangka yang ada

Diterima, selalu Nampak oleh mata

Beruntung dengan teknologi yang ada, bisa saya hidden pada akhirnya

“Whuahhhh, payah, payah, payah”

“Nongol lagi, nongol lagi”

“Muncul lagi, muncul lagi”

“Payah kamu cep”

“Ya saya memang payah sefta dan saya hanya bisa tertunduk lemas karenanya, tanpa bisa buat apa-apa”

Anak Gadis itu, pindah agama

ini ruang pribadi, seharusnya tidak ada orang yang tahu. Inginnya menuliskan sesuatu, untuk kemudian dibaca dan sesekali membuka, bila sudah mulai dirasa tidak peka dan mengalami missorientasi dalam menjalani kehidupan yang sementara ini.

Pagi ini, udara sejuk itu masuk begitu saja, setelah sebelumnya di alam imajiner saya mereka berkata “kami izin mau masuk cep”, begitu katanya, kata salah seorang ketua rombongan sang angin pagi yang menyejukkan. Sirkulasi udara pun tercipta, ada yang keluar, ada yang masuk, begitu seterusnya, sampai yang hitam lambat laun menjadi putih, sampai lambat laun sang mentari lamat-lamat terdengar bersenandung senang, menyanyikan lagu selamat datang. Ia kembali menciptakan harmoni dengan burung-burung pagi, burung gereja katanya, yang setiap harinya bertengger dengan setia di atas atap asrama Annisa, begini selalu setiap hari, sampai malam menutup hari dengan kegelapan.

Saya tidak begitu mengenal pribadinya, tetapi sedikit mengetahui siapa dia, bagaimana kesehariannya, seperti apa kisah cintanya. Cinta? jangan berikan cinta pada manusia, bila berbalas, memang akan berbuah suka, tetapi kepalsuan yang akan kamu munculkan pada akhirnya. Bila cinta tak berbalas, bisa jadi berbuah duka, berbuah kecewa, putus asa, bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya.

Saya tidak begitu mengenalnya, yang saya tahu hanyalah ia berbeda agama dengan saya, berbeda agama pula dengan pacarnya, kekasihnya.

Putus sambung, putus sambung, putus sambung, selalu begitu, selalu seperti itu. Ya setidaknya itu yang saya dengar dari teman-teman satu angkatan mereka berdua. Saya pikir, mereka akan bersama pada akhirnya, saya pikir, salah satu dari mereka akan mengikuti akidah yang seorang lainnya, seperti halnya akidah yang saya punya. Begitu terus saya dan teman-teman saya, teman-teman mereka berdua, beranggapan. Sampai akhirnya mereka berdua sama-sama selesai dari bangku perkuliahan.

Lama tidak ada kabar berita, selain kabar bahwa si wanita akan menikah dengan pria lainnya, bukan dengan kekasihnya semasa dia berada di kampus hijau indonesia. Menurut cerita teman-temannya, orang tua si wanita tidak menyetujui hubungan anak gadisnya dengan pria berbeda agama, berperangai tak baik pula.

Pertemuan keluarga pun diadakan, anak gadis pun berada di persimpangan jalan. Dengan berlinang air mata, sang ibu memohon agar anak gadisnya menuruti keinginan kedua orang tuanya, menikah dengan lelaki yang satu agama, yang baik keturunannya, lembut perangainya. Anak gadis bingung, tak tahu harus berkata apa, dan ketika sang kekasih yang berbeda agama mendatangi rumahnya, bertemu dengan kedua orang tuanya kemudian berkata “saya akan pindah agama” begitu kata si pemuda, anak gadis bingung, seperti berada di persimpangan jalan, ia hanya duduk termangu dalam diam.

Lalu, “kami mau, kamu pindah agama bukan karena bunga, tetapi karena memang keinginan kamu sendiri” begitu ujar kedua orang tua si gadis pada si pemuda dengan lemah lembutnya. Pemuda itu terdiam, ia sudah patah arang, kekasih hati tak lagi dalam genggaman, ia kecewa, pulang dengan tangan hampa.

Lama, saya tidak lagi mendengar kisah mereka berdua, selain tetang si anak gadis yang menikah dengan kakak dari sahabatnya semasa SMA, dan tentang kekasih hatinya? saya tidak tahu, tidak sampai ID facebooknya sampai di layar facebook saya.

Diam, dia semakin dekat dengan tuhannya nampaknya. Hmmh, begitulah kalau yang dicari dunia, ketika dunia tidak didapat, maka ia berbuah kecewa, ketika seorang manusia itu berubah karena dunia, maka ketika dunia diambil dengan paksa dari genggamannya, entah akan jadi apa dia.

Lelaki itu masih tetap berada pada keyakinannya yang dulu, masih tetap berbeda akidah, ia tidak berubah, tidak berpindah. Pikir saya, bila memang dia ingin berubah, berpindah karena Allah, maka menikah atau tidaknya dia dengan kekasihnya, ia tetap akan berpindah keyakinan, menjadi muslim, menjadi seorang yang beragama islam di KTP nya. Tetapi nyatanya tidak, ia masih tetap seperti dulu, bahkan lebih taat pada keyakinannya, lebih dari pada sebelumnya ketika dia masih bersama si gadisnya.

Saya kembali berpikir, merugi sekali lelaki itu. Semakin lama, semakin dekat dia dengan komunitas keyakinannya, agamanya. Ya, tidak ada paksaan dalam islam, termasuk kepada dia yang tadinya ingin berpindah agama, tetapi entah kenapa batal karenanya.

Naluri ibu, naluri ayah, naluri kedua orang tua gadis itu yang mungkin berpikir bahwa si lelaki bukan orang yang tepat untuk menjadi pemimpin bagi rumah tangga anak gadisnya, anak pertamanya. Bisa jadi, ketika menikah, si lelaki kembali kepada keyakinannya semula, atau bahkan menarik si gadis yang semula muslim menjadi nasrani pada akhirnya, mungkin saja.

Lelaki itu nampak masih sibuk dengan keyakinannya, masih sendiri, dalam frustasi (mungkin, mungkin saja). Dan anak gadis itu, ia nampak bahagia sepertinya, bersama keluarga barunya, bersama lelaki lain yang menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya, bersama lelaki yang satu akidah dengan dia dan keluarganya, barakallah, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah, amien.

Mari menutup hari, menjemput lelap….sejenak

Saya berjalan mendekati pukul 20.00 malam, bukan karena sedang gundah gulana atau sedang resah dan gelisah, haduh gdubbbrakkk, bahasanya seperti bahasa para pujangga, padahal saya bukan seorang pujangga, lebih tepatnya seorang pengacau bagi dunia sastra.

Mari kembali ke cerita semula, saya ingin membawa kalian yang membaca, masuk ke dalam dunia saya, ke alam pikiran saya yang terkadang memiliki rasa bahagia yang subhanallah berlimpah ruah, dan terkadang rasa gembira itu bercampur dengan air mata, air mata bahagia.

Melangkah pergi, saya lapar, beberapa potong martabak telur belum bisa menendang rasa lapar hingga keluar dari system pencernaan yang saya punya. Martabak itu bukan kepunyaan saya, tapi milik tetangga sebelah, yah karena lapar sudah mendera mau tidak mau beberapa potong itu saya embat juga. Sekali dua kali mengunyah, tidak terasa, martabak itu habis juga, rasa lapar itu belum juga sirna, maka jadilah saya melanglang buana, keluar  dari asrama mencoba memenuhi hasrat yang sudah tersendat-sendat (halah apa pula ini bahasa).

Anak-anak kecil itu berlari-lari, mereka yang dulunya masih terbata-bata dalam berbicara kini sudah semakin besar saja. Kadang saya berpikir, sebenarnya mereka yang terlalu cepat masa pertumbuhannya atau saya yang sebenarnya sudah semakin kadaluarsa, karena tidak pergi-pergi juga dari lingkungan asrama annisa. Sampai seorang bapak ojek bertanya ‘belum lulus juga?’, ‘iya pak, insya Allah bulan agustus’ begitu saya jawab, terus si bapak kasih komentar lagi, agak menohok sih ‘yang lain sudah pada lulus, sudah pada kerja, kamu belum lulus juga’ ya intinya seperti itu si bapak berkata.

Mari tinggalkan si bapak, kembali kepada anak-anak kecil itu yang semakin lama semakin beranjak dewasa. Mereka berlari, bermain kejar-kejaran, diiringi gelak tawa, senang melihatnya, saya bahagia melihat mereka tertawa. Ini malam minggu, kalau orang dewasa menghabiskan malam mereka dengan kekasihnya yang sama manusianya dengan dia, maka anak-anak kecil itu menghabiskan malam mereka dengan teman-temannya, berlari-lari di bawah bintang-bintang yang bertaburan.

Teruskan langkah, mendekati pondok pesantren tetangga sebelah yang bernama d**** f***h. Suddenly, mbak tarti memanggil, menghampiri warung ketopraknya, mendengarkan ia bercerita tentang binatang bernama luing yang menjelajahi wajahnya hingga membuat ia terjaga sampai pagi tiba, ha…3x saya hanya bisa tertawa.

Hahh, saya sedang mencoba mencari korelasi antara cerita yang satu dengan cerita yang lainnya, tapi ujung-ujungnya mentok.

Terus berjalan, melewati ponpes dengan ikhwan-ikhwan yang berseliweran. Dari dulu, paling malas rasanya kalau harus berpapasan dengan mereka, karena pasti bakal ada buntutnya, lihat saja sampai akhir cerita.

Jalan kopi ini semakin sepi, mana ada manusia yang berseliweran sesuka hati, yah terkecuali saya yang suka anomaly. Lapar, saya lapar, maka anomaly itu saya anggap menjadi suatu hal yang biasa, yang penting perut ini bisa segera terpenuhi hasratnya.

Sate satu porsi bu, begitu saya pesan pada si ibu penjual sate yang tidak mau sebutkan namanya, ‘gak keren, gengsi dong’ begitu katanya pada saya, saya hanya bisa tertawa. Jalan raya semakin ramai saja, di kiri-kanan jalan banyak tikar-tikar yang dibentangkan,  ada yang duduk-duduk sembari berbincang-bincang ditemani segelas kopi dan karena yang berbincang-bincang itu banyak orang, maka bukan segelas kopi tentunya, tetapi bergelas-gelas kopi.

Sepanjang jalan ini kini menjadi ramai, mahasiswa/I seakan tumpah ruah bila malam sudah menjelang. Saya hanya sekedar mengamati dari kejauhan, dari balik asap yang mengepul dari hasil pembakaran arang batok kelapa, yang dijual murah di Indonesia tetapi menjadi mahal manakala itu batok kelapa kembali ke negerinya dalam rupa yang berbeda. Arang-arang batok itu berubah menjadi resistor, berubah menjadi tinta-tinta, dan orang-orang luar itu menjadi kaya raya karena komoditi yang kita punya. Mari kita lupakan betapa hebatnya itu arang batok kelapa, yang jelas, karena itu arang saya jadi bisa menelan sate ayam dalam keadaan matang, bravo untuk si arang.

Tak lama, sebuah pesan singkat sampai di telepon genggam butut yang saya cinta, isinya ‘kemana cep?’. Nah ini dia buntut dari apa yang saya ceritakan, manakala saya melewati ponpes tetangga sebelah d**** F***h. Pesan-pesan tidak penting itu saya terima, bahkan hingga mendekati pkl 23.00 malam menjelang, dari orang yang berbeda. Hah rasanya begitu lega manakala menghela nafas panjang, lalu ‘berikan saya kesabaran ya Rabb’.

Saya hanya ingin mencari angin, mencari makan sembari berkumpul dengan ibu pedagang sate, mendengarkan ia bercerita tentang putrinya yang luar biasa aktifnya, dan ia bangga pada putri bungsunya. Berkumpul dengan ibu penjual roti bakar, mendengarkan ia bercerita tentang putra sulungnya ‘anak saya itu gak suka ikan mbak’. Mulai dari pola makannya, sampai ke bagian dimana pendidikan begitu mahalnya. Ia berkeluh kesah tentang harga buku yang begitu mahal untuk ukuran kantongnya, ditambah lagi kurikulum yang selalu berubah. Ibu itu menjadi salah satu korban dari system pendidikan yang tidak jelas juntrungannya yang diterapkan di negeri ini, Indonesia raya.

Lebih menyenangkan mendengarkan, ketimbang berbicara, hanya lelah yang akan dirasa, dan kalori yang baru saya dapat dari satu porsi sate ayam tadi, bisa jadi dengan serta merta terbuang dengan cepat, begitu saja.

Saya pulang, pamit, ‘sering-sering mampir’, begitu pesan kedua wanita bersahaja itu.

Jalan lagi, jalan lagi, ya lagi-lagi berjalan, berjalan lagi-lagi,meninggalkan hiruk pikuk keramaian jalan raya. Jalan kopi semakin sepi, ada yang sudah tertidur pulas, terbawa, terlelap di dalam alam mimpinya. Ada yang masih terjaga, berkeliaran di luar sana, ada yang berkutat dengan dunia maya. Sah-sah saja, ini malam minggu, malamnya anak muda, begitu kata beberapa orang di luar sana (mungkin), saya hanya menerka.

Sepi, saya suka sepi, saya menyukai ketenangan. Jalanan ini sudah begitu lengang, tidak ada itu manusia yang lalu lalang, semua toko-toko kecil sudah menutup, mengunci pintu rapat-rapat. Pelanggan dengan uang berapa pun itu tidak akan mereka terima, karena yang mereka inginkan saat ini, malam ini hanya istirahat.

Saya senang, karena sepi membuat saya dapat berjalan bebas, lepas, berbicara, bermonolog sesuka hati sembari memandang ke atas, menatap ke langit yang luas. Bersama binatang-binatang malam yang menemani saya dalam diam, sedang mereka bersenandung senang.

Rasi bintang layang-layang, bertebaran, bintang-bintang berada pada gugusannya masing-masing. Saya senang, mendongakkan kepala menatap ke angkasa, bintang-bintang itu seperti membentuk aliran sungai, sungai bintang. Kadang, mereka tidak dapat terlihat manakala dunia begitu dipenuhi oleh terang benderang cahaya lampu yang menyilaukan, inilah salah satu dampak negative yang ditimbulkan oleh Thomas alfa edisson, lampu membuat bintang-bintang itu kehilangan cahayanya yang kadang mempesonakan mata.

Manusia sudah lupa bahwa keindahan itu ada di atas sana, ada di jutaan bintang-bintang yang bertaburan, dan sesungguhnya di dalam pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran Nya. Begitulah kira-kira apa yang tertera di dalam buku kehidupan yang saya punya, yang saya baca.

Malam ini indah, seperti malam-malam sebelumnya.

Semakin larut, hampir semua penghuni asrama sudah terlelap di dalam tidurnya. Saya? Yah saya masih di sini, mengamati bintang-bintang, memperhatikan katak yang sedang sendirian, apa mungkin ia sedang mencoba memanggil sang hujan? Apa memang katak bisa memanggil sang hujan? Atau cerita itu hanya sekedar dongeng belaka, dongeng para orang tua yang mereka perdengarkan kepada putra-putri kecil agar bisa dengan mudah mereka terlelap di pangkuan kedua orang tuanya? Entah lah, semuanya hanya bisa saya jawab dengan entahlah, saya tidak dapat berkata-kata.

Mari menutup hari dengan mengucap lafadz ‘hamdalah’ mari menjemput lelap, beristirahat sejenak.

Dani bilang malu

Lupa kapan tepatnya, yang saya ingat, hari itu, siang itu, panas menyengat, polusi udara terasa begitu pekat, memaksa masuk ke dalam, melalui saluran pernapasan. Siang itu, Nampak matahari begitu senang menyinari bumi, manusia-manusia hilir mudik, bergerak, ada yang bermandikan peluh dan keringat ini bagi mereka yang berjalan, ada yang merasa tenang dan nyaman di dalam kendaraan, menikmati alunan music lembut, bermandikan tiupan angin yang keluar dari mesin pendingin mobil itu sendiri, ini berlaku bagi yang memiliki kendaraan, ada juga yang merasa kepanasan duduk dalam diam, sembari jantung dag-dig-dug tidak keruan, ini yang penumpang angkutan umum rasakan.

Panas, saya hanya bisa menutup kepala tengan telapak tangan saya. Pkl 13.00 siang, hari itu hari apa, ah mana saya ingat hari itu hari apa, yang jelas di kepala hanya siang, panas, lampu merah, kendaraan-kendaraan berhenti. Saya pun melambai-lambaikan tangan kanan, berlagak seperti polisi, meminta izin agar kendaraan-kendaraan yang lalu lalang dengan kecepatan sekian bersedia memperlambat laju kendaraannya agar saya bisa lewat dengan selamat.

Saya habis pulang kampung, (karena saya memang anak kampung) jadi sepertinya saat itu hari minggu, kenapa hari minggu? Karena pada hari minggu saya ada pengajian di masjid taqwa pkl 14.00, jadi sudah bisa dipastikan, setiap hari minggu saya akan kembali ke ibukota. Dan hari itu sepertinya hari minggu.

Panas, panas sekali, lampung memang panas, dan anak kecil itu, dengan potongan rambut yang menyerupai anak-anak band, melambai-lambaikan barang dagangannya, dari satu kendaraan menuju kendaraan yang lainnya. Anak kecil itu, lelaki, saya lebih suka menyebutnya dengan istilah bocah lelaki. Ia menjajakan Koran, di siang hari yang panas menyengat saat itu, luar biasa, saya saja rasanya sudah seperti terpanggang, dia senang-senang saja melenggang.

Saya mengamati, sukanya mengamati, melihat, memperhatikan, bocah lelaki itu tidak sendirian, ada beberapa bocah-bocah lainnya yang juga berada di sana, di tengah-tengah, antara jalan yang satu dengan jalan yang lainnya, sebelah-menyebelah. Ada yang mengamen, ada yang menjulurkan tangan meminta-minta belas kasihan, ada yang menjajakan Koran.

Saya berlari, dari sisi jalan yang satunya, menyebrangi jalan, anak lelaki itu masih dengan semangat menjajakan korannya, saya tidak ingin membeli pada awalnya, tetapi ‘de beli satu, berapa harganya?’ dua ribu kata anak itu pada saya, ok saya ambil satu. Bocah itu memberikan Koran itu pada saya, kemudian mencoba mencari kembalian dari uang sepuluh ribu yang saya berikan, ‘kamu gak sekolah d?’ begitu saya bertanya ‘sekolah mbak’ ia menjawab sembari sibuk dengan membongkar saku celana, saku bajunya, kembalian itu belum juga ada.

‘Namanya siapa de?’ saya bertanya, ‘dani mbak’ jawab anak kecil itu. Lalu ‘Tinggalnya dimana de? Saya lagi-lagi bertanya ‘di PU mbak’ jawab bocah itu, PU sekitar beberapa ratus meter dari simpang jalan unila, ‘kenapa ndak jualan di sana aja de?’, ‘wah di sana udah rame mbak, makanya saya jualan di sini’ begitu jawabnya sembari sibuk mencari uang kembalian. Lalu ‘kenapa nggak ngamen aja de, itu kayak anak-anak yang laen’ begitu saya bertanya. ‘wah malu mbak, mendingan saya jualan Koran, dari pada ngamen-ngamen kayak gitu’ intinya dia katakan, mengamen tidak jauh berbeda dengan meminta-minta.

Saya pikir ada benarnya juga, kadang mereka yang menjajakan suara yang sebenarnya begitu pas-pasan itu. Hanya menyanyi sekedarnya, ‘ecek-ecek’ belum juga lagu dinyanyikan, tangan sudah menjulur minta bayaran, ya ya ya bocah lelaki ini ada benarnya.

Kembalian itu belum juga ada, tidak juga menyembul dari kantong celananya. Lalu, ‘memang berapa harga korannya?’ ‘dua ribu mbak’ begitu jawabnya ‘ok, kembalikan sama mbak lima ribu, sisanya untuk kamu’ begitu saya katakan padanya. Bukan saya ‘sok’ berlagak menjadi dermawan, atau menjadi pahlawan kesiangan, hanya saja, saya pikir apa yang bocah kecil itu lakukan, pikirkan, diluar kebiasaan, dan saya pikir, saya layak memberikan apresiasi untuk itu, yah meskipun hanya dengan uang beberapa ribu.

Saya beranjak pergi, ‘makasi ya mbak’ begitu kata bocah lelaki itu. Saya berlari, menyebrang menuju sisi jalan yang lainnya. Saya pulang, dalam kepanasan, dengan semangat 45 untuk segera sampai ke asrama annisa, berlindung di dalamnya, itu bayangan saya. Dan bocah lelaki itu, masih tetap menantang matahari, dengan potongan rambut ala anak-anak band masa kini, rambutnya berwarna merah hasil besutan sang matahari, dengan poni menyebelah, yang juga panjang sebelah, dengan semangat 45, dia terus berkata ‘koran pak, koran’ begitu saya mendengarnya lamat-lamat dari kejauhan.

‘hahhhh, minum es dirasa benar-benar melegakan, tapi itu hanya sebatas angan, yang sampai ditenggorokan, tetap saja air putih yang murah meriah dan hanya itu yang tersedia di dapur kamar saya, asrama annisa, alhamdulillah’

Dani bilang malu, beberapa bocah seusianya ada yang menengadahkan wajah memelas, menjulur tangan, kemudian memainkan alat bicaranya dengan berkata ‘mbak minta mbak’. Dani bilang malu, beberapa bocah seusianya menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar televisi, bersahabat dengan apa yang namanya game teranyar abad ini Playstation, mulai dari 1, 2 hingga seri 3. Dani bilang malu dan dani menjadi guru saya pada siang hari yang panas itu.

It is not always about the money

It is not always about the money……….

Funny, this is very funny, when you got missorientation in ur life.

What should I do?

Big riddle is in side of my head

Don’t know what to do, just trying to help any body

Why did I was so lazy

Don wanna quit, don wan just sit

But not even make a move, not even make an action

Just standing here

Do nothing

Everybody staring at me

Is it wear if I sit down in here

Waiting for some people who want to make a transaction with me

The panthom of the opera

When Christine daee, ignore the panthom

Christine said, not because of his ugly face, not because of his beast look like, but because of the panthoms heart, his heart is ugly.

Sadness, very sadness, see it, seing the panthom feel lonely till the Christine daee die, rest in peace, he just put a rose with a ring, in Christine chemetry.

The panthom of the opera

He sing a song, the music of the night. For a few years, the only I know is that the music of the night is just a, no it look like classical music, without lyrics, but at least, I knew it, I knew that the music of the night is one of the soundtrack from the panthom of the opera.

Umm, knowing the lyrics, try to understand it, beautiful, panthom try to express his feeling to Christine daee, but unfortunately, Christine didn give him feed back for his feeling. I think, panthom feels lonely, sadness and sorrow, maybe.

Seeing him, stay and live in the underground of his own theatre, with every body ignore him because his physicly, even his mom. And because of that, he become a possessive person, close his heart, and at least close his mind.

Poor panthom, beautiful lyrics of the music of the night, very romantic, and ironicly the panthom of the opera life story.

Sadjak

ini bukan soal seberapa banyak mereka yang mengunjungi blog mu

ini bukan soal seberapa banyak yang memberi komentar pada setiap tulisanmu

ini tentang cinta, cinta yang tak tahu sampai ingin menangis rasanya

Aku mencintai Mu, sampai ingin menangis rasanya setiap kali mencoba menggambarkan seperti apa rasanya

Aku mencintai Mu, mencintai tapi tak tahu bagaimana cara membuktikan seperti apa cinta itu

Aku mencintai Mu, mencintai dan tidak ingin ada yang mengganggu

Aku tak inginkan surga, apa aku begitu sombong karena itu

Hanya ingin berjumpa dengan Mu

Hanya ingin melihat, menatap seperti apa kiranya wajah Rabb yang Menciptakan aku

Aku, aku kehabisan kata-kata

Aku kehabisan kata-kata

Saya diterima bekerja

‘ha, lu kerja di caunter cep?’, ya ‘ha’ sebuah ekspresi yang ditampakkan oleh seorang penghuni asrama yang lebih tua beberapa tahun dari saya.

Malu, awalnya saya malu untuk datang kemudian bertanya pada lelaki itu tentang ‘kak, kata temen saya, kakak butuh pegawai ya?’ perlu keberanian untuk mengatakan itu, yah setidaknya bagi saya.

Entah untuk apa saya merasakan malu, saya tidak membuka aurat di depan manusia yang lainnya, tidak juga bekerja dengan tujuan memakan rezeki yang bukan hak saya. Pertanyaan ‘mengapa harus malu’ it uterus terlintas di kepala. Sempat berhenti melangkahkan kaki, bimbang, antara pergi menjemput rezeki atau sekedar membiarkan rezeki dari Allah itu melambaikan tangan kemudian melangkah pergi.

Allah itu masih sayang, bahkan begitu amat sangat sayang. Dengan cepat kaki saya melangkah, mencoba melesakkan rasa malu jauh ke dalam, ke dasar, ngarai hati yang gelap dan pekat. Mengunci, mengurungnya karena saat itu rasa malu itu tidak diperlukan di tempat itu.

Saya diterima bekerja, untuk 9 jam lamanya, menjaga counter yang menurut pemiliknya ‘untungnya tidak seberapa’, entahlah, saya tidak tahu, mengapa sampai saat ini saya masih dengan ringan berkata ‘bukan uang yang menjadi patokan saya’, apa saya munafik? Ataukah naïf? Atau memang sebenarnya saya belum begitu membutuhkannya? Entahlah saya tidak tahu, yang saya tahu adalah bahwa uang belum begitu menarik hati, dan semoga sampai ketika saya mati bertemu dengan Nya nanti.

Seorang teman bertanya, tentang berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menghasilkan sebuah tulisan. Tidak lama, benar tidak lama, melainkan hanya beberapa menit saja, semua itu mengalir begitu saja, seperti halnya tulisan ini.

Menulis sesuatu itu tidak sulit, selama kita mau berlaku jujur pada diri kita sendiri, pada apa yang kita tulis. Bukukan, hasilkan sebuah karya seperti penulis ternama, saya yakin kamu mampu, kira-kira begitu kata beberapa orang kenalan saya.

Entahlah, bukan itu yang saya mau, bukan itu pula yang saya tuju. Saya hanya ingin menuangkan sesuatu, menceritakan sesuatu, dan terkadang tidak ingin siapapun tahu akan hal itu. Ada sesuatu yang tidak saya mengerti, tentang betapa hati ini membenci ketika saya mengalami disorientasi dalam menulis sesuatu. Saya membenci bila tulisan itu ada karena saya merasa bangga dengan apa yang saya punya, saya membenci bila tulisan itu ada hanya karena saya yang mengejar-ngejar waktu untuk meletakkan tulisan itu sebagai salah satu arsip di dalam blog-blog yang saya punya.

(menghela nafas panjang), segala sesuatu itu harus berasal dari hati, dari alam pikiran ini. Bukan berdasarkan nafsu, nafsu akan mengejar dunia yang seperti memburu. Saya tidak ingin memburu dunia, tidak ingin mengejarnya. Entahlah, mengapa dunia tidak begitu menarik dirasa, apa saya munafik? Ataukah saya naïf?.

Saya pernah merasakannya, ketika dunia begitu melalaikan hati dan kepala, hingga Dia sempat mengambil sesuatu yang Dia titipkan pada saya, tidak menyenangkan ketika dunia melenakan. Ada rasa ketakutan, tidak nyaman, entahlah, system yang ada di dalam tubuh ini seperti kacau balau, tidak keruan. Kehilangan arah dan tujuan, rasa nyaman, tentram di dalam jiwa, tidak lagi terasa, selain hampa, kosong, begitulah ketika dunia mulai melenakan, saya tidak menyukainya, saya membencinya, membenci ketika saya mulai dilenakan olehnya.

Saya benci merasa kenyang, saya pun membenci rasa senang yang begitu berlebihan, saya membenci karena terkadang mereka begitu melenakan.

Saya bercerita, tentang sesuatu yang kadang tidak begitu penting menurut mereka yang membacanya. Aku mulai merindukan Mu kembali, tidak ingin membiarkan Mu pergi dari dalam hati dan pikiran ini.

Betapa aku begitu ingin mencintai Mu, merindukan kapan kiranya perjumpaan dengan Mu, kapan kiranya tiba saat itu, beberapa hari dirasa begitu berat bagi diri ini. Aku tidak sedang mencoba merangkai kata, tidak juga ingin menyamakan rima, aarrrggghhh aku berbohong, dan Engkau tau itu.

Rasa itu berontak, bergejolak, meluap-luap, loncatan-loncatan perasaan itu membuat aku menjadi manusia kecil yang tidak tahu akan apapun itu, aku terbentur, terhenti, terjebak, tenggelam, terbenam, mencoba mengapai-gapai.

Dalam gelap, dalam remang, ditemani nyanyian binatang-binatang malam, bintang gemintang yang bercahaya terang di atas langit sana, ditemani bulan yang tak lama lagi mendekati bulan mati.

Aku merindukan Mu

Menutup usia 22 dengan tertawa

19 maret 2009, pkl 19.00, detik-detik menjelang kedatangan tanggal 20 maret, menegangkan, detik-detik pergantian yang semula biasa, menjadi sesuatu yang luar biasa menurut saya.

Sesaat, saya lupa, saya terlena, saya terlalaikan, saya melampaui batas, dalam mengisi perut hingga akhirnya menamakannya dengan kekenyangan. Melampaui batas dalam kesenangan, melampaui batas dalam bertingkah laku hingga berbuah sombong, ujub yang tidak terasa, tidak kasat mata, yang datang diam-diam, menyelinap hingga sombong itu, ujub itu, riya itu berdiam di dalam diri, bersemayam di dalam hati untuk beberapa waktu lamanya, nampaknya.

Dentang jam terus terdengar, semakin nyaring di telinga, suara binatang-binatang malam yang menghuni rawa di belakang asrama, meramaikan suasana, menemani dalam diam, dalam sibuknya jari-jemari menuliskan apa yang ada di hati.

Ia tidak nyaman, ia merasa gundah gulana, ia sejenak terlupa detik-detik bersama 22 akan segera berlalu bersama waktu. Menghela nafas panjang dalam setiap kali mengumandangkan ‘allahu akbar’, terasa berat ketika terucap, terasa menghujam, menentramkan, menyedihkan, menyadarkan, bahwasannya ada sesuatu yang sia-sia, ada sesuatu yang keluar dari batas wajarnya.

Jiwa-jiwa itu tidak merasa nyaman, tidak merasa tentram. Hati lupa akan sesuatu hari itu, bahwa 22 akan segera berlalu.

Angkutan umum itu terus melaju, sopir angkutan tua yang berbaik hati menyewakan kendaraannya untuk mengantarkan kami pergi ke rumah seorang teman yang Alhamdulillah sudah menamatkan kuliahnya hari ini.

Candaan, gurauan, menimbulkan gelak tawa terkadang tak tertahan, melenakan, hingga terlupa bahwasannya ruh yang berada di dalam sini, di dalam diri ini, tidak ridha dengan apa yang diri ini lakukan.

Detik-detik menjelang kepergian 22, menyesal, percuma, sesal itu tidak berguna. Menarik sebuah benang merah dari semua kejadian yang ada, bahwasannya aku menutup usia 22 dengan tertawa. Menyedihkan….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.